Hidrokuinon
Sinonim :
Alpha-hydroquinone; Hydroquinol; Quinol; Benzoquinol; 1,4-benzenediol;
1,4-dihydroxybenzene; p-dihyroxybenzene; p-hydroxyphenol; p-dioxobenzene;
dihyroquinone; pyrogentistic acid (BPOM,2011)
Efek samping
: efek samping dari hidrokuinon dapat menimbulkan dermatitis kontak dalam
bentuk bercak putih pada wajah atau sebaliknya. Menimbulkan reaksi
hiperpigmentasi. Gejala awal dapat berupa iritasi ringan, panas, menyebabkan
luka bakar, merah, menyengat, eritmia, gatal atau hitam pada wajah akibat
kerusakan sel melanosit (BPOM RI, 2011)
UJI HIDROKUINON
1.
Titrasi Redoks
Hidrokuinon adalah salah satu
reduktor dengan potensi eloktrokimia E®+268 mV. Pada titrasi oksidasi hidrokuinon
akan melepaskan elektron (mengalami oksidasi) sementara titian akan mengalami
reduksi karena mengikat elektron. Prosedur analisis hidrokuinon secara titrasi
redoks menurut Farmakope Indonesia edisi IV:
Timbang seksama sampel sebanyak
250 mg, larutkan dalam campuran 100ml air dan 10ml asam sulfat 0,1 N, tambahkan
tetes definilamin dan titrasi dengan serum IV sulfat 0,1 N hingga warna merah
lembayung. Lakukan penetapan blangko dengan 1 ml serum IV sulfat 0,1 N setara
dengan 5,506 mg C6H6O2 (DepKes, 1995)
2.
Spektofotometri UV-Vis (Garcia et al.2007)
Hidrokuinon memiliki gugus
kromofor sehingga dapat dianalisa dengan menggunakan alat Spektofotometri
UV-Vis. Cara yang dilakukan untuk analisa hidrokuinon dengan metode ini adalah
:
Diukur panjang gelombang secara
Spektofotometri ultraviolet pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan untuk
menghitung kadar hidrokuinon dalam sampel dihitungdengan menggunakan kurva baku
dengan persamaan regresi :
y
= a ± bx
3.
Kromatografi Lapis Tipis (Siddique
et al, 2012).
Analisa hidrokuinon menggunakan
menggunakan fase diam yang bersifat polar dan fase diam yang bersifat nonpolar.
Kuantitas hidrokuinon dihitung dengan membandingkan luas puncak bercak sampel
terhadap bercak standart menggunakan alat densitometri yang diukur pada panjang
gelombang maksimum.
Fase gerak yang dapat digunakan
adalah:
a.
Metanol-kloroform
(50:50) (Depkes,1995)
b.
Heksana-aseton
(3:2) (Siddique et al, 2012)
4. HPCL
(High Permormance Liquid Chromatography)
Sistem kromatografinya
merupakan sistem kromatografi terbalik dimana fase diam bersifat non polar
dengan fase gerak bersifat polar.
5.
Misellar
Electrokinetic Chromatography
Metode ini
menggunakan surfaktan seperti SDS (Sodium Dodesil Sulfat) dan CTAB (Cetil Trimetil Amonium Bromida) untuk
meningkatkan resolusi denganinteraksi hidrofobik antara anti hidrofobik dengan
misel dengan analit. Sistem kromatografinya menggunakan kolom kapiler Fused silica dengan detektor UV
(Jangseokmine et al, 2005)
6. Electrochomatography
(Desiderio et al,2000)
Merupakan teknik
analisa terbaru yang menggunakan kapiler fused
sillicaI dengan kombinasi mekanisme elektroporetik dan kromatografi. Analit
dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan partisi dalam fase gerak dan fase diam. Metode
ini dapat digunakan untuk menganalisa analit
netral maupun analit yang bermuatan.
7. Kalorimetri
(Ibrahim et al, 2004)
Metode ini
menggunakan pereaksi floroguslin untuk menentukan kadar hidrokuinon dalam krim
pemucat. Kondisi pengukuran dioptimumkan berdasarkan penentuan pengaruh
konsentrasi natrium hidroksida, penentuan pengaruh lama pemanasan dan suhu
optimum serta penentuan pengaruh pereaksi floroglusin. Hasil yang diperoleh
kemudiandiambil sebagai prosedur baku dalam reaksi warna. Teknik kalorimetri
mempunyai keunggulan karena senyawa yang bersama dengan hidrokuinon yang
mengabsorbsi radiasi di daerah ultraviolet tidak akan mengganggu pengukuran
serapan radiasi pada sinar tampak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar