Jumat, 29 Agustus 2014

UJI HIDROKUINON PADA KOSMETIK




Hidrokuinon
Sinonim : Alpha-hydroquinone; Hydroquinol; Quinol; Benzoquinol; 1,4-benzenediol; 1,4-dihydroxybenzene; p-dihyroxybenzene; p-hydroxyphenol; p-dioxobenzene; dihyroquinone; pyrogentistic acid (BPOM,2011)
Efek samping : efek samping dari hidrokuinon dapat menimbulkan dermatitis kontak dalam bentuk bercak putih pada wajah atau sebaliknya. Menimbulkan reaksi hiperpigmentasi. Gejala awal dapat berupa iritasi ringan, panas, menyebabkan luka bakar, merah, menyengat, eritmia, gatal atau hitam pada wajah akibat kerusakan sel melanosit (BPOM RI, 2011)

UJI HIDROKUINON
1.      Titrasi Redoks
Hidrokuinon adalah salah satu reduktor dengan potensi eloktrokimia E®+268 mV. Pada titrasi oksidasi hidrokuinon akan melepaskan elektron (mengalami oksidasi) sementara titian akan mengalami reduksi karena mengikat elektron. Prosedur analisis hidrokuinon secara titrasi redoks menurut Farmakope Indonesia edisi IV:
Timbang seksama sampel sebanyak 250 mg, larutkan dalam campuran 100ml air dan 10ml asam sulfat 0,1 N, tambahkan tetes definilamin dan titrasi dengan serum IV sulfat 0,1 N hingga warna merah lembayung. Lakukan penetapan blangko dengan 1 ml serum IV sulfat 0,1 N setara dengan 5,506 mg C6H6O2 (DepKes, 1995)
2.      Spektofotometri UV-Vis (Garcia et al.2007)
Hidrokuinon memiliki gugus kromofor sehingga dapat dianalisa dengan menggunakan alat Spektofotometri UV-Vis. Cara yang dilakukan untuk analisa hidrokuinon dengan metode ini adalah :
Diukur panjang gelombang secara Spektofotometri ultraviolet pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan untuk menghitung kadar hidrokuinon dalam sampel dihitungdengan menggunakan kurva baku dengan persamaan regresi :
y = a ± bx
3.      Kromatografi Lapis Tipis (Siddique et al, 2012).
Analisa hidrokuinon menggunakan menggunakan fase diam yang bersifat polar dan fase diam yang bersifat nonpolar. Kuantitas hidrokuinon dihitung dengan membandingkan luas puncak bercak sampel terhadap bercak standart menggunakan alat densitometri yang diukur pada panjang gelombang maksimum.
            Fase gerak yang dapat digunakan adalah:
a.       Metanol-kloroform (50:50) (Depkes,1995)
b.      Heksana-aseton (3:2) (Siddique et al, 2012)

4.      HPCL (High Permormance Liquid Chromatography)
Sistem kromatografinya merupakan sistem kromatografi terbalik dimana fase diam bersifat non polar dengan fase gerak bersifat polar.
5.      Misellar Electrokinetic Chromatography
Metode ini menggunakan surfaktan seperti SDS (Sodium  Dodesil Sulfat) dan CTAB (Cetil Trimetil Amonium Bromida) untuk meningkatkan resolusi denganinteraksi hidrofobik antara anti hidrofobik dengan misel dengan analit. Sistem kromatografinya menggunakan kolom kapiler Fused silica dengan detektor UV (Jangseokmine et al, 2005)
6.       Electrochomatography (Desiderio et al,2000)
Merupakan teknik analisa terbaru yang menggunakan kapiler fused sillicaI dengan kombinasi mekanisme elektroporetik dan kromatografi. Analit dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan partisi dalam fase gerak dan fase diam. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisa analit  netral maupun analit yang bermuatan.
7.      Kalorimetri (Ibrahim et al, 2004)
Metode ini menggunakan pereaksi floroguslin untuk menentukan kadar hidrokuinon dalam krim pemucat. Kondisi pengukuran dioptimumkan berdasarkan penentuan pengaruh konsentrasi natrium hidroksida, penentuan pengaruh lama pemanasan dan suhu optimum serta penentuan pengaruh pereaksi floroglusin. Hasil yang diperoleh kemudiandiambil sebagai prosedur baku dalam reaksi warna. Teknik kalorimetri mempunyai keunggulan karena senyawa yang bersama dengan hidrokuinon yang mengabsorbsi radiasi di daerah ultraviolet tidak akan mengganggu pengukuran serapan radiasi pada sinar tampak




           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar